Parapat, 19 Desember 2025 – Gelaran Rapat Kerja Evaluasi Laporan Kinerja (LAKIN) Universitas Negeri Medan tahun 2025 yang berlangsung di Hotel Niagara, Parapat, pada 17 hingga 19 Desember 2025, menjadi momentum krusial bagi seluruh civitas akademika. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Rektor UNIMED, Prof. Dr. Ir. Baharuddin, ST., M.Pd., serta Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd., yang memimpin jalannya evaluasi mendalam terhadap seluruh Fakultas, Pascasarjana, Lembaga, dan Unit Pelaksana Teknis (UPT). Delegasi FE UNIMED hadir dengan formasi lengkap yang dipimpin oleh Dekan Dr. Haikal Rahman, M.Si., didampingi oleh Wakil Dekan I Dr. T. Teviana, S.E., M.Si., Wakil Dekan II Akmal Huda Nasution, S.E., M.Si., Wakil Dekan III Dr. Dionisius Sihombing, M.Si., serta tim Taskforce Fakultas. Forum ini tidak sekadar menjadi ajang pelaporan rutin, melainkan sebuah arena dialektika akademik untuk membedah capaian substantif institusi di tengah tantangan disrupsi pendidikan tinggi.
Dalam sesi paparannya, Dekan FE UNIMED, Dr. Haikal Rahman, menyajikan analisis kinerja yang berbasis pada kejujuran akademik dan data empiris. Beliau menyoroti adanya disparitas profil lulusan yang masih didominasi oleh pragmatisme kerja, sementara atensi terhadap studi lanjut dan prestasi kompetitif masih memerlukan dorongan lebih kuat. Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah fenomena "Sindrom Menara Gading" di mana produktivitas publikasi dosen cukup tinggi, namun masih mengalami stagnasi dalam hilirisasi riset yang berdampak langsung pada masyarakat dan industri. Selain itu, FE UNIMED secara terbuka mengakui tantangan dalam pengelolaan keuangan yang selama ini masih terlalu bergantung pada penyelenggaraan seminar (Event Organizer), dan kini berkomitmen keras untuk beralih menjadi pusat kepakaran (Think Tank) yang memonetisasi aset intelektual melalui jasa konsultasi, audit, dan solusi berbasis data bagi pemerintah daerah maupun korporasi.
Merespons paparan tersebut, Ketua Senat UNIMED, Prof. Dr. Syawal Gultom, memberikan evaluasi tajam sekaligus konstruktif mengenai urgensi transformasi yang mendasar pada setiap fakultas. Beliau menekankan bahwa kepatuhan administratif semata, atau yang disebut sebagai pseudo-compliance dalam dokumen kurikulum, tidak lagi relevan untuk mempertahankan daya saing universitas. Prof. Syawal menggarisbawahi pentingnya penerapan mikrokredensial yang terintegrasi dalam kurikulum untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi spesifik yang diakui industri. Transformasi ini menuntut dosen untuk tidak hanya sekadar mengajar, melainkan menjadi arsitek pembelajaran yang mampu mengintegrasikan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) sebagai mitra debat dan akselerator kompetensi, bukan sebagai jalan pintas akademik. Penekanan ini sejalan dengan upaya FE UNIMED untuk meredefinisi prestasi mahasiswa dari sekadar pemenuhan tugas menjadi penciptaan nilai baru (creating new value).
Sebagai penutup rangkaian evaluasi, jajaran pimpinan FE UNIMED menyatakan komitmennya untuk menindaklanjuti seluruh rekomendasi strategis guna memperbaiki tata kelola organisasi yang dinilai masih belum cukup adaptif. Langkah konkret yang akan ditempuh meliputi digitalisasi layanan menuju Smart Faculty untuk memangkas birokrasi manual yang menghambat akselerasi kinerja akademik. Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan, Akmal Huda Nasution, bersama tim, akan fokus pada restrukturisasi skema pendapatan agar lebih stabil dan berkelanjutan melalui unit bisnis profesional. Dengan semangat perbaikan berkelanjutan, FE UNIMED optimis dapat mengubah tantangan rentan finansial dan kesenjangan kompetensi menjadi peluang untuk memperkokoh reputasi fakultas sebagai entitas pendidikan yang kredibel, berintegritas, dan responsif terhadap dinamika zaman.
