Mengupas Kebijakan Makroprudensial, 6 Dosen FE UNIMED Hadiri Kuliah Umum



Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara bekerja sama dengan Bank Indonesia mengadakan kuliah umum yang dihadiri berbagai sivitas akademika dari berbagai kampus di kota Medan. Acara dilaksanakan di Aula Prof. Dr. Suhadji Hadibroto FEB USU Medan, pada hari Senin, 3 Juni 2024 pagi.

Dalam kesempatan ini, FE UNIMED mengutus 6 dosen dari berbagai prodi, yaitu Dr. Salman Munthe, S.Pd., M.Si, Lucky Satria Pratama, S.E., M.Si, Danny Ajar Baskoro, S.E., S.Pd., M.Pd., M., M. Nasir. S.S., S.Pd., M.S., Lenti Susanna Saragih, S.Pd., M.Si, dan Pasca Dwi Putra, S.E., M.Si, untuk hadir dalam kuliah umum tersebut

Acara dibuka dengan sambutan dari Dekan FEB USU, Dr. Fadli, SE.M.Si. ; Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Bambang Arianto, serta Iman Gunadi yang merupakan pejabat perwakilan dari Bank Indonesia.


Kuliah umum bertopik 'Perkembangan stabilitas sistem keuangan dan kebijakan makroprudensial: Mendorong peningkatan intermediasi ditengah ketidakpastian global" menginformasikan bahwa terdapat 4 faktor ketidakpastian global, yaitu Perang Rusia dan Ukraina, Pemanasan Global, Konflik Hamas Palestina dan Israel, serta Percepatan Alih Teknologi digital. Diharapkan investasi yang masuk ke Indonesia dapat mendorong pertumbuhan ekonomi makro. Mahasiswa harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan masa yang terus berubah, serta melakukan transformasi pemikiran untuk menjawab tantangan global sebagai generasi penerus bangsa.

Iman Gunadi dari BI Medan menyampaikan salah satu isu penting pada tahun 1997-1998 terkait krismon, dimana suasana saat itu sangat mencekam dengan inflasi tinggi dan spekulasi yang terus meningkat. Pelajaran ini membuat Indonesia sangat berhati-hati pada tahun 2024, dengan melakukan asesmen kondisi terkini melalui BI.  Fenomena ekonomi baru diperoleh dari krismon 1997, yaitu stabilisasi di sistem keuangan melalui kebijakan makroprudensial. Stabilitas keuangan harus dijaga 5 tahun pasca krismon, dan pada tahun 2005 Indonesia berhasil melewati kegoncangan ekonomi global dengan pertumbuhan ekonomi negatif namun kondisi cepat pulih kembali.

Coki Ahmad Syahwier, S.E.M.P, Ketua Prodi Ekonomi Pembangunan FEB USU, menegaskan bahwa kebijakan makroprudensial merupakan instrumen untuk mengelola sistem keuangan agar lebih stabil dan meningkatkan perekonomian nasional. Kebijakan makroprudensial melihat secara agregat, misalnya di sektor perbankan, untuk mencegah penumpukan risiko jika semua bank menyalurkan kredit untuk properti dengan pola pikir yang sama. Selain itu, divergensi pertumbuhan ekonomi global melemah akibat geopolitik dunia, seperti konflik Rusia-Ukraina. Sesuai UU BI jo UU NO. 4 tahun 2023 tentang P2SK, tujuan Bank Indonesia adalah mencapai stabilitas nilai rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan penerapan strategi bauran kebijakan.

© 2005- FE Unimed - All Rights Reserved